Selasa, 26 Oktober 2021

[REVIEW] Timberborn—Membangun Kota Bersama Berang-berang Imut

Binloong - Membuat sebuah peradaban dan kota kemungkinan menjadi hal lumrah yang kita permainkan sejauh ini. Tetapi, apa yang terjadi bila berang-berang imut gantikan komunitas manusia dalam sebuah peradaban yang komplet dengan pembangunan kotanya? Pada dasarnya, perihal ini pula yang hendak dikatakan oleh Mechanistry pada 15 September 2021 lalu lewat Timberborn.


Games ini masih masuk dalam early akses hingga Timberborn masih terus akan diperkembangkan sambil telah bisa diperoleh dan dimainkan langsung. Nach, beritanya, games ini banyak memiliki pembahasan positif dari semua gamer di dunia. Bagaimana pengalaman penulis di saat ada di dunia berang-berang imut ini? Jika ingin tahu, baca saja ulasan Timberborn berikut ini.


1. Berang-berang dapat secerdas manusia



Tahukah kamu bila berang-berang itu dapat secerdas manusia? Bahkan juga, mereka menjadi tukang kayu yang handal dan brilian. Nanti dulu, ini bukanlah artikel sains yang mengulas bukti mengenai berang-berang. Yap, dalam games dengan judul Timberborn, kita akan jalankan sebuah plot yang kental dengan taktik dalam pembangunan kota.


Antiknya, bukannya memakai peradaban manusia secara umum, developer cenderung pilih spesies berang-berang sebagai watak khusus dalam games ini. Satu kelompok hewan ini bisa membuat sebuah peradaban dan kota yang maju dalam bebatan classic. Oke, sisi terbaik ialah ketergantungan emosional kita dengan satu kelompok berang-berang yang ada.


Penulis lebih bersedih kehilangan berang-berang yang mati dibanding dengan kehilangan koloni manusia dalam games, seperti Civilization, SimCity, dan Age of Empires. Ketika mainkan Timberborn, ada argumen kuat pemain harus menjaga kehidupan berang-berang yang imut itu dari kekeringan. Ini sekalian membuat jalinan khusus kita seperti dengan hewan piaraan.


Nach, plot khusus dalam games ini akan terpusat di antara kehidupan berang-berang dengan lawan alaminya, yaitu cuaca dan alam liar. Kedengar cukuplah sederhana, kan? Tetapi, malah dibalik kesederhanaan berikut Timberborn jadi sebuah permainan yang memikat dan pantas untuk selalu kita permainkan. Untuk penulis, background narasi jenis ini dipandang fresh dan sanggup mengisap perhatian beberapa pemain.


2. Proses permainan menarik dan tidak menjemukan


Games ini datang dengan suatu hal yang unik dan berlainan. Hal itu jadikan Timberborn sebuah games dengan proses gameplay menarik dan tidak menjemukan. Status early akses ternyata menjadi hal yang baik untuk pengembang dan gamer ingat banyak games jenis ini umumnya selalu mentok pada segi gameplay yang jemu.


Antiknya, gerakkan dan memerintah satu kelompok berang-berang dapat berasa lebih menyenangkan bila dibanding dengan memerintah karyawan manusia. Dalam beberapa peta yang menyebar, ada robohan-runtuhan dari tersisa peradaban manusia yang dahulunya pernah exist. Yap, dalam games ini, manusia dikisahkan telah musnah dan dunia terkuasai spesies yang lain lebih bugar.


Bagaimana dengan proses pertarungannya? Well, developer menyengaja tidak untuk masukkan pertarungan atau peperangan apa saja dalam games ini. Salah satu lawan yang akan kita temui ialah garangnya alam, dapat berbentuk banjir, cuaca jelek, kekeringan, dan lain-lain. Khusus untuk kekeringan, ini sebagai keadaan terjelek yang hendak mengakibatkan berang-berang mati secara massal.


Bangunan-bangunan kota yang dibuat cukup detil dan kompleks. Sebagian besar memang dibuat dari kayu dan ini bawa penulis pada situasi alam di Eropa Era Tengah. Salah satunya yang pantas dihargai lebih ialah bagaimana realitasnya lanscape atau tata ruangan yang ada. Kamu akan seringkali memerlukan ledakan dinamit untuk meratakan, bahkan juga membolongi tanah.


Oh, ya, hampir kelupaan, hal menarik yang lain ditawari oleh Timberborn ialah kebebasan kita dalam membuat map atau peta secara berdikari. Seperti City: Skylines, tetapi Timberborn dirasakan lebih menarik dan intensif. Tidak boleh lupakan mekanisme perdagangan karena semua daerah yang kita bangun dapat terkait keduanya secara berbarengan.


3. Style visual classic dan detil


Tampil dengan bebatan yang cukup detil membuat Timberborn kelihatan bagus di mata penulis. Grafisnya berkesan cukup imut seperti mempresentasikan barisan sosial mamalia lucu itu. Hal yang penulis sukai dari penampilan games ini ialah bagaimana developer mampu meramu sebuah kehidupan sosial dan aturan kota yang hidup dan terus bergerak seperti kita memperhatikan negeri dongeng berang-berang.


Namun, ada pula penampilan yang terlihat kaku dan kasar, khususnya pada sektor lanscape bersusun. Beberapa penampilan pada pohon dan tanaman berkesan repetitif dan masih perlu banyak kenaikan dalam soal penerangan. Lepas dari itu semua, visual dalam games ini telah kelihatan bagus dan detil. Memainkan sepanjang beberapa jam akan bawa kita pada hubungan kompleks di tengah-tengah panorama berpenampilan classic.

Baca Juga : [REVIEW] Warhammer 40,000: Battlesector—Pertempuran Hebat 2 Pihak

4. Audio kedengar membahagiakan



Untuk menyeimbangi plot, gameplay, dan penampilan yang imut dan sulit, developer menyuntikkan audio yang didengar membahagiakan. Dia akan kedengar lumayan ramai dan kaya suara walau tidak dalam ukuran yang terlalu berlebih. Beberapa suara sepele yang didatangkan kedengar tenang dan tidak mengusik dalam telinga.


Begitu halnya mekanisme musikalnya, Timberborn datang dengan musik yang memiliki bobot, tetapi tetap dalam ukuran yang halus dan tenang. Pada umumnya, kemungkinan audio dalam games ini akan kedengar sama dengan games pembangunan kota yang lain. Tetapi, dalam telinga penulis, Timberborn telah sanggup tampilkan kualitas audio yang sebagai wakil kehidupan berang-berang yang imut dan pintar.


5. Replikasi yang dibikin secara inovatif


Ada banyak sekali games replikasi pembangunan kota, khususnya untuk basis Windows (PC). Tetapi, di tengah-tengah kompetisi yang menggila, Timberborn malah berani tampil berbeda dan meleset dari pakem yang telah ada. Dia memang mendatangkan mekanisme yang sama dengan games replikasi yang lain. Tetapi, kehidupan kompleks dunia berang-berang dan semua bangunan kota yang ada dirasakan cukup berlainan.


Sampai detik ini, games garapan Mechanistry ini masih ada pada status early akses. Di satu segi, games akan semakin berkembang sesuai saran dari beberapa gamer. Tetapi, di lain sisi, status jenis ini mengakibatkan developer seakan malas melaunching versus finalnya. Mudah-mudahan saja pengembang dapat masukkan semakin banyak elemen dan gabungan gameplay untuk yang akan datang.


Karena background narasi unik dan proses gameplay yang kompleks, penulis memberi score 4/5 untuk Timberborn. Bila developer dapat tingkatkan kualitas visual dan penerangan lebih bagus kembali, bisa jadi games ini jadi prima di mata banyak gamer. So, mudah-mudahan penjelasan ringkas ini menjadi rekomendasi untukmu, ya.


0 komentar to “ [REVIEW] Timberborn—Membangun Kota Bersama Berang-berang Imut”

Posting Komentar